Kamis, 26 November 2009

Keluarga Teladan
Kamis, 26 November 2009

HARI ini saudara-saudara kita sedang menunaikan wukuf di Arafah dan besok serentak seluruh umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban. Salah satu inti dari Idul Adha ialah memperingati peristiwa bersejarah penyembelihan putra nabi Ibrahim AS, yakni Nabi Ismail. Nabi Ismail adalah simbol dari sesesuatu yang amat dicintai seseorang. Bayangkan, sampai usia lanjut Nabi Ibrahim berharap punya anak tapi nanti setelah ia berusia senja baru terkabulkan. Anak semata wayang ini tiba-tiba diminta untuk dikurbankan oleh Allah. Nabi Ibrahim sepakat dengan istri dan anaknya untuk tidak melihat pilihan lain kecuali memenuhi permintaan Allah, yaitu menyembelih putra kesayangan sendiri, yang pada akhirnya diganti dengan seekor kibasy atau kambing.

Yang menarik untuk diambil pelajaran di sini ialah betapa sebuah keluarga itu begitu kompak dan tanpa hambatan berat untuk melaksanakan perintah Tuban itu. Di antara mereka bisa saja mengajukan alasan atau menolak, tetapi malah mereka begitu pasrah dan tegar memenuhi tuntutan Tuhan itu. Wajar kalau keluarga Nabi Ibrahim mendapatkan julukan keluarga teladan.

Dalam Al-Quran, banyak sekali kita temukan keluarga teladan, ironisnya keluarga teladan itu bukan hanya dari kalangan nabi-nabi tetapi juga dari keluarga biasa yang bukan nabi, namun layak disebut keluarga teladan, seperti keluarga Luqman, yang single parent laki-laki bisa melahirkan anak-anak saleh. Malah di dalam AlQuran ada contoh kontras, justru keluarga nabi yang seharusnya menampilkan keluarga teladan tetapi menampilkan kebalikannya. Lihatlah misalnya keluarga Nabi Nuh, yang melahirkan seorang anak laki-laki bernama Qanan, tetapi sayang akhlak dan kaidahnya tercela. Ia tidak mau ikut ke dalam perahu ayahnya. Nuh karena kekuturannya. Walaupun ia anak biologis Nabi Nuh tetapi dianggap oleh Allah sebagai bukan keluarga (innahu laisa min ahlilka), dengan kata lain ia hanya merupakan anak biologis tetapi tidak menjadi anak spiritual. Berbanding terbalik dengan putra Nabi Ibrahim yang rela disembelih jika itu atas nama Tuhan.

contoh lain ,ada anak yang anak yang saleh tetapi ayahnya paling ,yaitu kisah Nabi Ibrahim dengan ayahnya. Ayahnya seorang yang bukan hanya penyembah berhala tetapi sekaligus tukang produksi patung untuk disebarkan ke masyarakat Jadi kebalikan dari kisah Nabi Nuh. Keluarga lain yang patut disinggung ialah keluarga Firaun. Ia sendiri seorang dhalim besar tetapi istrinya mendapatkan julukan paling saleh di dalam Al-Quran. Kebalikannya, ialah keluarga Nabi Nuh dan Nabi Lut, yang istrinya diklaim paling buruk dan dlalim di dalam Al-Quran. Istri Nabi Lut yang menunjukkan tamu suaminya yang ganteng, sehingga kelompok pemuda menyerbu ke rumahnya, maka jadilah ia sebagai istri terlaknat di dalam Al-Quran.

Ada lagi keluarga yang bermasalah karena faktor saudaranya, yaitu anak-anak Nabi Adam. Kakaknya seorang anak yang saleh (Habil) tetapi adiknya seorang yang bejad (Qabil). Kerjanya hanya mencemburui, mengkhianati, bahkan membunuh kakaknya sendiri karena faktor kekecewaan dan iri hati. Habil akhirnya mati muda sedangkan adiknya. Qabil, mati dalam keadaan menyedihkan dan penuh penyesalan. Hal yang sama dialami Nabi Yusuf yang punya saudara pengkhianat dan tega mencoba membunuh Yusuf. Contoh terbaliknya ialah Nabi Musa yang memiliki adik bernama Nabi Harun. Fungsi Nabi Harun betul-betul melengkapi kelemahan yang ada pada kakaknya dalam mewujudkan cita-cita luhur keluarganya, termasuk menjadi juru bicara kakaknya yang lidahnya cacat seumur hidup.

Anak, saudara, suami, atau isteri teladan tidak selamanya lahir dari keluarga ideal dan keluarga ideal tidak jaminan akan mehirkan keluarga ideal. Keluarga ideal sesuatu yang diperjuangkan, bukan sesuatu terberi (given) dari atas. Mari kita menjadikan momentum Idul Adha ini untuk menciptakan keluarga sakinah.